KPK memerlukan bantuan FBI untuk menjerat Ketua DPR Setya Novanto sebagai tersangka dugaan korupsi proyek e-KTP

Jakarta,– IvoryNews.co.id
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membutuhkan proses yang tak singkat untuk menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka kasus korupsi Proyek Pengadaan e-KTP.

Lembaga antirasuah itu sampai harus terbang ke Singapura dan Amerika Serikat, hingga bekerjasama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk menetap Ketua Umum Partai Golkar itu sebagai tersangka.

Saat pergi ke AS, penyidik KPK memeriksa Direktur PT Biomorf Lone LLC, Johannes Marliem dalam pengusutan kasus e-KTP ini. Marliem disebut-sebut punya andil dalam proyek senilai Rp5,9 triliun itu.

Dalam berkas dakwaan Irman dan Sugiharto, Marliem adalah pemasok alat pengenal sidik jari atau automated fingerprint identification system/AFIS ke konsorsium penggarap proyek e-KTP.

Selain memeriksa Marliem, ternyata penyidik KPK juga menemui jajaran biro investigasi AS, FBI.

Dari koordinasi yang dilakukan dengan jajaran FBI, dikabarkan KPK mendapatkan data pendukung terkait dengan penanganan kasus e-KTP.

Data tersebut terkait dengan aliran dana proyek di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Berdasarkan informasi, disebut-sebut ada perusahaan yang digunakan Setnov di negeri Paman Sam itu, untuk menyamarkan uang hasil dari korupsi proyek e-KTP.

Perusahaan yang dikabarkan fiktif itu sengaja dibuat sebagai penampungan uang e-KTP sekaligus pengecoh agar tak terendus penegak hukum.

Saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com tentang hal tersebut, Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham hingga Ketua DPP Bidang Hukum dan HAM Golkar Rudi Alfonso belum meresponsnya.

Sementara itu Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang membenarkan jika pihaknya berkoordinasi dengan FBI ketika penyidik KPK terbang ke AS.

Namun, Saut tak menjawab lugas saat ditanya pertemuan dengan FBI itu memperoleh data yang berkaitan dengan dengan kasus e-KTP.

“(Tim KPK) diskusi dengan FBI dan lain-lain,” kata Saut saat dikonfirmasi.
Saut tak mau bicara lebih lanjut soal pertemuan dengan jajaran FBI tersebut.

Rekaman Pembicaraan Proyek e-KTP

Berdasarkan laporan Koran Tempo, Marliem mengklaim memiliki rekaman pembicaraan proyek senilai Rp5,9 triliun. Besaran file rekaman selama empat tahun dirinya ikut dalam pertemuan pembahasan e-KTP itu mencapai 500 gigabita.

Saut menyatakan pihaknya bakal mendalami isi dari rekaman yang dimiliki Marliem tersebut. KPK pun telah meminta Marliem menyerahkannya untuk dipelajari lebih lanjut.

“Valid atau enggak kami dalami dulu. Nanti akan didengar, para ahli juga akan mendengar, menilai, apakah ada yang baru atau tidak,” kata Saut setelah menghadiri acara Mukernas ke-II PPP di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Kamis (20/7).

Menurut Saut, Apabila KPK dan para ahli telah mendengar dan menilai bahwa rekaman itu bukan rekayasa, maka KPK akan menggunakan rekaman milik Marliem tersebut untuk memperdalam kasus korupsi e-KTP.
“(Rekaman Johannes Marliem) bisa jadi bahan konfirmasi,” tutur Saut.
Dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP ini, KPK telah menetapkan lima orang sebagai tersangka.
Mereka adalah mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Irman, Direktur Data dan Informasi Kemendagri, Sugiharto. Keduanya sudah divonis masing-masing tujuh tahun dan lima tahun oleh hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.
Kemudian pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong, Setya Novanto koleganya di Golkar, Markus Nari…(CNN)

Mungkin Anda Menyukai

Translate »